Minggu, 11 Oktober 2020

Kemajuan atau Kemunduran?

 

Penaklukan dan kejayaan sains, seperti halnya perang, berujung pada kehancuran dan kesia-siaan, kesedihan dan penderitaan yang tak bisa diobati. Perluasan eksplorasi sains yang demikian luasnya ke dalam segala aspek kehidupan material telah memungkinkan kehidupan menusia mengalami lompatan besar ke depan. Tapi tatkala para ilmuan sains sibuk menyibak segala kekuatan alam dan menyalurkan penemuan-penemuan mereka ke dalam industri-industri teknologi, ternyata mereka justru gagal menyadari bahwa sebenarnya mereka hanya menduduki satu sudut dari sebuah laboratorium kehidupan.

Penyempurnaan sains material tidak diikuti dengan peningkatan wawasan etika yang mandalam. Kenyataannya, dua bidang ini berjalan di alur yang berbeda. Demikian berbedanya sehingga kemajuan di salah satu bidang justru dapat menyebabkan kemunduran di bidang yang lain.
            seorang guru, besar berkebangsaaan Eropa berbicara dalam sebuah konferensi sains yang diselenggarakan di Tehran, di mana ia mengatakan, “Dalam bidang moral, Barat iri kepada Timur. Karena prestasi moral Timur lebih kaya dan lebih baik daripada Barat. Sementara Timur mengambil manfaat dari sains dan industri Barat, Barat pun perlu mengambil manfaat dari prestasi etika Timur.”

Kita terlalu terpesona dengan kemajuan yang disajikan Barat, sehingga tanpa disadari kita mengopi semuanya termasuk etika. Dan yang lebih celakanya lagi kita merasa bahwa etika bangsa sendiri kita anggap kuno. Sadarkah kita?

Sepertinya sudah tiba zamannya, Ketika kita kini menemukan begitu banyak orang yang pandai sekali berbicara, tetapi tidak dapat merealisasikan apa yang ia bicarakan. Begitu pula dengan pemimpin negeri ini, Ketika uang menjadikannya pesuruh tanpa pikir panjang melakukan apa yang diminta. Miris sekali, andai kita selalu paham bahwa hidup kita bukan hanya di dunia saja, jabatan kita, amanah yang Allah SWT beri pada kita semua itu dimintai pertanggungjawabannya saat kita telah pindah ke negeri Akhirat.

Melihat mata rakyat yang berusaha bertahan hidup membuatku tak sanggup melihat kerasnya zaman ini. Kutemui pedagang kerupuk ikan di lampu merah menjual dagangannya dengan senyum manis dan kulit yang terbakar matahari. Aku heran banyak mobil mewah yang melintas motor kinclong pun banyak mengapa tak ada yang membeli? Walaupun uang di dompet tinggal Rp. 15.000. kumohon belilah dagangan itu. Jika aparatur negeri ini tak memperhatikan usaha mereka. Minimal kita sajalah yang bergerak membantu. Apa salahnya membeli semampu kita. Bukankah hikmah dari wabah ini adalah sedikit tapi berkah. Mereka tak minta banyak padahal.

Entahlah dunia memang sudah terlalu tua untuk bertahan. Kejujuran dan ketulusan sudah ditutupi dengan keberadaan uang. Padahal uang hanya alat. Coba rehat sebentar. Jangan kebanyakan mikir uang sendiri. Kembalilah ke garis kita yang semestinya mundur beberapa langkah dan belok ke kanan. Dunia masih bisa lebih indah lagi. Saat kita ikhlas menerima apapun bentuk kedzaliman. Karena kita punya Alllah SWT saat kita bergantung padaNya. Bahkan mati pun kita akan mendapat senyuman para malaikat yang kemudian berkata “selamat datang di Syurga Allah SWT ini balasan atas keikhlasanmu saat di dunia”.

 

SILSILAH KETURUNAN RADEN

  SILSILAH KELUARGA   BUPATI I POERWOREJO menikah dengan anak dari RADEN TUMENGGUNG DIPODIRJO   Kemudian dikaruniai 7 orang anak I...