Penaklukan
dan kejayaan sains, seperti halnya perang, berujung pada kehancuran dan
kesia-siaan, kesedihan dan penderitaan yang tak bisa diobati. Perluasan
eksplorasi sains yang demikian luasnya ke dalam segala aspek kehidupan material
telah memungkinkan kehidupan menusia mengalami lompatan besar ke depan. Tapi
tatkala para ilmuan sains sibuk menyibak segala kekuatan alam dan menyalurkan
penemuan-penemuan mereka ke dalam industri-industri teknologi, ternyata mereka
justru gagal menyadari bahwa sebenarnya mereka hanya menduduki satu sudut dari
sebuah laboratorium kehidupan.
Penyempurnaan
sains material tidak diikuti dengan peningkatan wawasan etika yang mandalam.
Kenyataannya, dua bidang ini berjalan di alur yang berbeda. Demikian berbedanya
sehingga kemajuan di salah satu bidang justru dapat menyebabkan kemunduran di
bidang yang lain.
seorang guru, besar
berkebangsaaan Eropa berbicara dalam sebuah konferensi sains yang
diselenggarakan di Tehran, di mana ia mengatakan, “Dalam bidang moral, Barat
iri kepada Timur. Karena prestasi moral Timur lebih kaya dan lebih baik
daripada Barat. Sementara Timur mengambil manfaat dari sains dan industri
Barat, Barat pun perlu mengambil manfaat dari prestasi etika Timur.”
Kita
terlalu terpesona dengan kemajuan yang disajikan Barat, sehingga tanpa disadari
kita mengopi semuanya termasuk etika. Dan yang lebih celakanya lagi kita merasa
bahwa etika bangsa sendiri kita anggap kuno. Sadarkah kita?
Sepertinya
sudah tiba zamannya, Ketika kita kini menemukan begitu banyak orang yang pandai
sekali berbicara, tetapi tidak dapat merealisasikan apa yang ia bicarakan. Begitu
pula dengan pemimpin negeri ini, Ketika uang menjadikannya pesuruh tanpa pikir
panjang melakukan apa yang diminta. Miris sekali, andai kita selalu paham bahwa
hidup kita bukan hanya di dunia saja, jabatan kita, amanah yang Allah SWT beri
pada kita semua itu dimintai pertanggungjawabannya saat kita telah pindah ke
negeri Akhirat.
Melihat
mata rakyat yang berusaha bertahan hidup membuatku tak sanggup melihat kerasnya
zaman ini. Kutemui pedagang kerupuk ikan di lampu merah menjual dagangannya
dengan senyum manis dan kulit yang terbakar matahari. Aku heran banyak mobil
mewah yang melintas motor kinclong pun banyak mengapa tak ada yang membeli? Walaupun
uang di dompet tinggal Rp. 15.000. kumohon belilah dagangan itu. Jika aparatur
negeri ini tak memperhatikan usaha mereka. Minimal kita sajalah yang bergerak
membantu. Apa salahnya membeli semampu kita. Bukankah hikmah dari wabah ini
adalah sedikit tapi berkah. Mereka tak minta banyak padahal.
Entahlah
dunia memang sudah terlalu tua untuk bertahan. Kejujuran dan ketulusan sudah
ditutupi dengan keberadaan uang. Padahal uang hanya alat. Coba rehat sebentar. Jangan
kebanyakan mikir uang sendiri. Kembalilah ke garis kita yang semestinya mundur beberapa
langkah dan belok ke kanan. Dunia masih bisa lebih indah lagi. Saat kita ikhlas
menerima apapun bentuk kedzaliman. Karena kita punya Alllah SWT saat kita
bergantung padaNya. Bahkan mati pun kita akan mendapat senyuman para malaikat
yang kemudian berkata “selamat datang di Syurga Allah SWT ini balasan atas keikhlasanmu
saat di dunia”.