“Perbaiki niatmu wi”. Kalimat itu yang selalu aku ingatkan
ke diri aku. Mengapa? Sebabnya sekarang aku sedang dalam fase menginginkan
kemuliaan yang di dapatkan oleh temanku (iri). Ia menjadi mahasiswa yang sukses
mendirikan Lembaganya sendiri dan mendapatkan IPK tertinggi di jurusannya. Kalau
aku kurang lebih lah, hehe. Alhamdulillah IPK-ku tinggi juga walau di urutan
kedua atau ketiga. Aku gak tau pasti. Alhamdulillah juga aku mendirikan Lembaga
pendidikan nonformal dirumah. Dan ini masalahnya, setelah aku merefleksikan diriku
sendiri ada hal yang salah dalam diri ini. Sekali lagi, “perbaiki niatmu wi!”.
Temanku diakui kecerdasaan dan karyanya di kampusku, sedang
aku tidak. Tidak ada kemuliaan yang aku dapatkan saat aku Kembali mengunjungi
kampusku. Aku seperti mahasiswa biasa di mata orang-orang. Dan hal inilah yang
membuatku merasa perjuanganku sepertinya kurang memuaskan. Padahal untuk apa
aku merasa begitu. Sekarang aku tanya pada hatiku sebenarnya aku berjuang ini
untuk diakui manusia atau cukup diakui Allah SWT. Aku ini sibuk mendramatisir
penilaian manusia bukannya mengutamakan penilaian Allah SWT, padahal sering aku
memposting sebaik-baiknya penilaian adalah penilaian Allah SWT. Aku seperti
ketampar kali ini. Kenapa aku sibuk mencari pengakuan orang lain, seharusnya
aku lakukan saja apa yang mungkin bisa aku kontribusikan. Keep practice aja!.
“Capekkan wi?” kata itu sekarang malah menertawakanku. Lah wong
udah tau gimana rasanya, masih aja iri. Penyakit hati yang satu ini memang mengerikan.
Ia mampu mengikis iman bahkan mampu mengubah Haluan seseorang. Hati memang
harus dijaga kemurniaannya. Sekarang aku harus tawakkal, tekun, ikhtiar lagi. Meluruskan
niat memang tidak gampang. Tapi harus diusahakan terus. Bahagiamu dikenal penduduk
langit atau bahagiamu dikenal oleh penduduk bumi? Pilih wi!.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar